Perjalanan Sabtu Sore….

Sore itu hujan turun dengan agak tergesa-gesa. Seakan memburu waktu petang yang sebentar lagi akan tiba. Makassar, meskipun terkenal dengan cuacanya yang cukup panas, kadangkala hujan turun pada waktu yang tidak terduga. Sejatinya, kami perlu bersiap diri dengan situasi seperti ini, cuaca misalnya. Membawa payung, mantel, mantel, dan jas hujan untuk melindungi diri dari dinginnya siraman air hujan.

Seperti biasa, pengidealan selalu yang kita harapkan bakal terjadi. Seperti sabtu lalu. Hujan turun dengan debit yang kecil. Tapi cukup untuk membuat orang yang mencoba menerabasnya bisa-bisa sakit kepala dan demam ringan. Apalagi jika tidak membawa apa-apa sama sekali untuk perlindungan diri. Seperti saya saat ini.

daerah sini nyaman.” gumamku dalam hati. Suasananya tenang. Apakah karena hujan? Mungkin saja. Konturnya jauh dari landai. Jalanan menaik dan menurun. Perumahan Bukit Baruga yang letaknya di Antang juga memiliki kondisi yang sama. Tidak kusangka, dari sini, saya bisa melihat pesawat yang sementara take off dengan jarak yang tidak bisa kuterka. Tapi dekat. Sungguh. Menarik bisa menyaksikannya. Relatif ribut bagi mereka yang tiap hari mendengarnya. Tapi tidak dengan saya yang baru mendengarnya dengan lokasi yang bukan di landasan pacu. Haha…

Di tengah hujan seperti ini, apalagi di sabtu sore menjelang akhir pekan. Orang-orang yang tinggal di perumahan padat penduduk seperti kompleks, griya, dan utamanya perumahan BTN, sedikit masyarakat menyempatkan waktu untuk sekadar keluar menyaksikannya. Menyaksikan bulir-bulir seindah mutiara itu berjatuhan menimpa daun-daun yang menjadi lemah gemulai. Hujan menjadi agenda rutin masyarakat untuk lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Atau juga alasan untuk lebih berlama-lama berada di coffee shop dan café.

Mungkin seperti itu. Tapi, kecuali satu: anak-anak ASEP. Singkatan dari Anak SEribu Pulau. Komunitas anak-anak belum mencapai kelas 5 sd yang mencak-mencak dan paling punya strategi jitu menerobos barisan pertahanan ayah, ibu, dan kakaknya. Keluar bertemu dengan teman-temannya. Tentu saja, dalam hujan.

Lama saya tidak melihat anak-anak bermain hujan. Bukan serangan flu dan demam yang tiba-tiba menyerang yang bukannya saya tidak mengakhawatirkan mereka, tapi keceriaan dan tingkah polah anak-anak itu dalam bermain yang begitu saya nikmati. Biarkan saja mereka bermain. Aji mumpung.  Hujan belum turun menggarang. Sembari mereka berfikir tentang hujan, bermain: -bagi saya- memantapkan wacana multikultur yang sementara hangat diperbincangkan.

Ingatan saya menerawang program-program cerdasnya Irfaan Amalee (Peace Generation). Juga sebuah tayangan dari youtube tentang  sekolah sore bagi anak-anak yang memiliki perbadaan dalam hal religiusitas. Anak-anak itu bermain tanpa memeperhatikan agama, warna kulit, dan status sosial. Jelas kupikir. Itu dunia mereka, kan? Ya, mereka lepas selepasnya. Setidaknya, sore ini, anak-anak itu hanya bermain sebentar dalam hujan gerimis yang terus mengikis daerah kering yang kukenakan.

Asa di Sebuah Rumah

Saya tidak bawa mantel. Mantel itu bukan mantel seperti yang kawan-kawan sangka: pelindung dan pengaman barang bawaan pakaian dan ketika berkendaraan di tengah hujan. Belum cukup pemakaian tiga bulan di awal tahun, sobekan besar di sana sini terlihat menganga. Apa boleh buat, demi menepati janji dengan beberapa senior dan rekan-rekan, saya terus menambah laju sepeda motor dalam hujan. Mereka sudah berada di tujuan setengah jam lalu. Saya tentu tidak ingin melewatkan kesempatan yang menghadirkan nuansa keakraban di antara kami terlewat begitu saja.

Akan tetapi sedari tadi, alamat yang dituju oleh seorang rekan belum juga ketemukan. Dengan handphone yang mengerjap-ngerjap mau mati, saya terus menanyakan rute mana lagi yang harus kutempuh untuk sampai di sana. Beberapa saat kemudian, handphone saya mati. “hufffttt…..berakhir sudah petualanganku hari ini” bisikku agak kesal. Saya hendak pulang saja waktu itu. Saya pasrah. Terdampar di tengah belantara ratusan rumah yang pukang melintang di areal kompleks perumahan. Dan parahnya: alamatnya tidak juga kutemukan. Komunikasi putus.

Akhirnya, dalam kegalauan karena handpohne saya mati secara total, pertolongan yang diharapkan akhirnya muncul juga. Alhamdulillah. Setelah mencari-cari dalam hujan yang sudah mulai reda, saya melihat ada sebuah kios yang memiliki tempat teduh, tidak ramai pula, tapi agaknya terasa lumayan untuk mencoba meminta bantuan si pemilik. Sore yang menjelang maghrib ini, bak lintang kemukus yang menimbulkan setitik cahaya sebelum redup dan akhirnya mati.

Kepadanya saya minta tolong untuk men-charge handphone. Lagi-lagi, saya menunggu. Berselang lima menit kemudian, saya mencoba menghubungi kembali teman. Jangkauan penglihatan saya terbatas karena colokan listrik berada tepat di dalam kios. Sebisa mungkin, kucoba memberitahukan posisi tempatku sekarang. Nyatanya, saya berada di tempat yang tepat untuk diselamatkan sesegera mungkin. Jaraknya hanya sepelemparan batu. Haha…

“Halo, kak, saya berada di tepat seberang jalan minimarket X.” kataku cepat.

“ok, kujemput kau di sana” jawab seorang senior.

Saya mempertimbangkan presumsi. Mini market jenis ini memang lagi menjamur di segala penjuru kota Makassar. Bahkan ada dua hingga empat mini market jika yang disasar adalah kompleks perumahan. Beruntung, presumsi yang mengarah ke insting itu benar.

Meskipun realitanya demikian, minimarket X di daerah ini hanya satu biji. Kupikir demikian oleh sebab daerah ini agak terpencil dari kota. Tepatnya di wilayah utara kota. Itu sebabnya, hanya ada satu.  Entah apa lagi yang bisa kuterkajawabkan jika tadi dia sempat melewati beberapa minimarket yang sama. Bisa runyam. Haha…

Akhirnya: sampai juga.

Rumah Unik: Komunitas Sapi Berbunyi.

Bangunan rumahnya terdiri dari dua lantai. Dari luar, dinding bagian atas bertuliskan “Komunitas Sapi Berbunyi” yang dibuat dengan gaya mural. Lantai satu penuh dengan barang-barang yang tidak terduga. Tepat depan lemari buku ruang tengah ada gamelan yang masih berfungsi dengan baik, sepeda ontel yang menggantung di pagar kayu pengaman di lantai dua sisi kiri, dan topeng dengan aneka ekspresi di sisi kanan, dan bermacam-macam alat pentas lakon drama yang bertumpuk di salah satu sudut ruangan lantai satu.

Ini pertama kali saya menginjakkan kaki kemari. Yang paling kentara adalah dua lemari besar penuh dengan buku. Terdiri dari buku hasil karangan kak Asdar sendiri –begitu kami menyapanya- dan tentu saja buku-buku lain yang baru kuliat untuk kali pertama. Belum lagi dengan puluhan kardus yang berisi ratusan eksemplar buku yang belum diambil oleh pemesannya. Memenuhi sudut-sudut ruang di lantai satu dan dua. Teman-teman ada di ruang tengah. Menghamburkan buku-buku yang dianggapnya menarik dari dalam lemari.

Penggemar sastra, penggila referensi jurnalistik, dan buku-buku populer. Penilaian awal yang kutorehkan kepada beliau. Mataku begitu awas dan antusias terhadap hal-hal baru yang dapat kugapai. Saya berpikir, buku-buku itu menarik. Alangkah bahagianya bila saya berkesempatan menemukan buku yang sama di acara obral buku besar-besaran. Atau barangkali saya mesti mengobrak-abrik toko-toko buku loak untuk mendapatkannya.

Untuk lebih jelas tentang base camp Komunitas Sapi Berbunyi tersebut, harian Kompas Minggu, tertanggal 11 Desember 2011, mewujudkan rumah Kak Asdar menjadi objek rubrik ”Aku dan Rumahku.” Silahkan diibaca.

Umar Kayam: “Kumpul-kumpul, mangan

Sebenarnya, kami – saya, beberapa senior dan sejumlah rekan- menerima undangan makan malam dari seorang budayawan Sulawesi Selatan yang terkenal: Asdar Muis RMS. Tidak hanya sekadar makan terus pulang. Ikut juga acara bincang-bincangnya. Haha… Rasanya aneh, jika tidak ada yang kita bisa bawa “bawa pulang” dari rumah seorang esais populer  yang cukup nyentrik ini.

Makanan yang disuguhkan juga banyak. Didahuli dengan appetizer, berupa kudapan ringan dan kue-kue tradisional Makassar dan daerah lain yang entah apa namanya. Soal makanan, bagi saya, yang penting itu enak di lidah.  Ada beberapa macam. Dan, itu sudah membuat saya dan rekan-rekan agak kewalahan sebelum memulai ‘pertarungan’ sebenarnya.

Asdar Muis RMS

Anda tahulah, sebagai tuan rumah yang baik, penjamuan terhadap tamu haruslah dilakukan sebaik mungkin. “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda” begitu ujaran populer yang pernah ditampilkan dalam sebuah iklan tv. Ada benarnya juga. Kak Asdar sebisa mungkin menjelaskan kepada kami apa nama, dan dari daerah mana kue-kue ini semua berasal. Sungguh menarik hati dan tentu saja menggugah selera.

Tanpa ragu-ragu teman-teman mengiyakan, sebab mereka sebagian besar juga tahu meskipun mereka bingung juga dari mana kue-kue ini didatangkan.

Haha… Termasuk dengan hidangan utama kami yang semuanya satu spesies: ikan. Ikannya macam-macam. Tapi ada satu yang paling besar, dan paling menggairahkan bagi saya: ikan goreng renyah.

ini ikan cuma ada di sungai, segar.” Kata kak Asdar.

cobalah, kalian beruntung bisa menemukannya.” Sergahnya dengan yakin.

Tanpa menunggu lebih lama, saaya mengambilnya mendahului teman-teman. Ini ikan limited edition. Cuma sepiring. Tidak ada “ronde” ke dua. Serta merta kubawa menuju piring yang sudah kuisi  dengan dua sendok nasi. Juga sambal yang sangat menggoda selera. Ikan sungai yang mirip ikan cepak, besarnya seukuran telapak tangan orang dewasa. Dan: digoreng.

Saya bisa hitung jari, di tempat mana saja, makan saya begitu nikmat dan terasa sangat lezat. Nah, di rumah kak Asdar, sudah kuprediksi sejak awal, makanku pasti nikmat. Akan kuingat terus ceramahnya mengenai ikan sungai itu yang namanya sudah tidak kuingat lagi. Haha…

Umar Kayam, dalam sebuah memoar yang dirangkum dalam sebuah buku “Umar Kayam Luar Dalam”, sebagaimana yang ditulis oleh Vevep Sp. Wardhana mengisahkan, UK –singkatan Umar Kayam- juga kerap kali mengundang mereka yang calon sastrawan untuk makan ramai-ramai di malam minggu dengan sistem lesehan di Jogja.

Berikut petikan komentarnya:

Karenanya, dalam ajakan dan undangan ritual makan (dengan Umar Kayam) terkadang saya agak susah membedakan antara makan dalam artian sebagai salah satu representasi terhadap pemanjaan atmosfer kuliner dengan makan sebagai sebuah frame untuk bica kesana kemari yang ternyata full isi, termasuk membicarakan situasi politik kiwari negeri.

Saking seringnya kebersamaan dalam undangan makan malam yang berlangsung sekitar tahun 1970 hingga 1980-an tersebut,  keberadaan UK diutuhkan oleh Ashadi Siregar dan Faruk HT dengan memodifikasi pameo Jawa yang sangat terkenal: “mangan ora mangan ngumpul.” Menjadilah ia “kumpul-kumpul, mangan. Sambil mangan-mangan, cerita.”

Persis dengan apa yang kami lakukan dengan saat ini. Hanya saja, perbincangan itu kami lakukan setelah makan. Biasalah, realitas kultural orang Bugis Makassar menuntut kami untuk tidak banyak bercakap saat makan. Diksusi intensif kami lakukan setelah selesai makan, dan semuanya kembali teratur. Lantai ruang tengah telah bersih dan kami pun mulai duduk melingkar.

Esai “Berkarung Uang”

Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Kak Asdar terlihat mengambil tape kecil di atas tumpukan  buku. Sudah sangat usang kelihatannya. Guratan karat berwarna kuning keperakan menghiasi seluruh permukaannya. Mungkin hampir tidak ada yang mengira bahwa, dengan “barang laik museum” itulah, kak Asdar mengontrol jalannya Smart FM.

Woooww…padahal yang ada dalam pikiranku adalah sebuah big compo dengan dua stereo yang suaranya bombastis itu. Agar terdengar dengan lebih jelas. Meskipun bayangan itu sudah tidak sesuai lagi, orang bisa mendengarkan radio via internet dan smartphone yang hampir semua kami miliki. Tidak wajar bagi sebuah pemilik stasiun radio. Kesederhanaan dan kebersahajaan. Itu mungkin yang ingin ditampilkannya kepada kami.

Sambil mencari-cari frekuensi radio yang dimaksud, dia memejamkan mata dan menghela nafas panjang dengan agak tersengal. Tak lama berselang, musik backsound permulaan pembacaan esai mengalun menggema syahdu di sekeliling kami. Wooow…kupikir ini luar biasa. Waktunya mungkin diatur sedemikian rupa agar kami bisa langsung mendengarnya tepat saat pembacaan esai dimulai.  Tepat setelah segala sesuatunya menjadi beres kembali. Termasuk buku-buku yang berhamburan dan peralatan makan.

Kami datang untuk mendengarkan. Mencoba menangkap apapun yang coba disampaikan. Pengalaman-pengalamannya, wawasan jurnalistiknya, keresahan-keresahannya tentang beberapa orang, kegalauannya dengan pemimpin-pemimpin negeri, hingga kepiawaiaannya dalam menulis dan membaca esai. Sering kudengar esainya dia bacakan dan perdengarkan di radio Suara Celebes FM yang ia dirikan. Waktu itu saya masih kelas tiga sekolah menengah. Saya takjub. Ketemu dengan orangnya secara langsung.

Dalam beberapa kesempatan, kami diperintahkan untuk menanggapi dan merespon apa pun yang di rasa tidak dipahami dan dimengerti secara langsung. Timbal balik pun terjadi. Akrab. Suasana begitu kondusif dan cair. Kami berdiskusi panjang dengan beliau selama lebih dari dua jam, kami ditawari untuk mendengarkan pembacan esai tersebut secara langsung, bukan lewat siaran radio. Tawaran untuk mendengarkan esainya itu langsung kami terima. Serempak kami melonjak kegirangan.

 “Berkarung Uang.” Itulah judul lengkap esai yang dibacakan Asdar Muis RMS ketika akan mengakhiri lawatan kami di kediamannya. Esai yang membuat kami semua berdecak dan berdesis beberapa kali setelah mendengarnya. Kami sebenarnya tidak ingin bertepuk tangan karena aroma esai yang dibacakannya begitu kuat. Menangis malahan. Ya, Menangis. Hampir semua kawan perempuan yang turut ikut tidak kuasa menahan air matanya turun menjangkau pelipis. Esai ini dibaca sekitar 9-10 menit dengan pemaknaan yang luar biasa baik oleh penulisnya.

Ada nuansa magis dan keharuan yang menimbulkan rasa iba, peduli, marah, gamang, spektis, pragamatis, denasionalisasi, dan  tentu saja humanisasi yang terangkum begitu gamblang dalam setiap pemilihan ide esai yang ditulisnya. Rasanya hal tersebut sengaja ingin selalu di tampilkan oleh kak Asdar yang hobi memakai celana pendek.

Saatnya kami pulang…

Kami anggap ini oleh-oleh dan hadiah yang menimbulkan rasa cinta untuk kembali lagi kemari yang entah kapan saat itu tiba. Esai “Berkarung Uang” saat ini tertuang dalam buku “Tuhan Masih Pidato” terbitan Agustus tahun lalu. Esai tersebut hanya satu dari sekian ratus esai yang ditulisnya pada harian Pedoman Rakyat dalam kurun waktu semenjak pertengahan 2003 sampai Februari 2007 silam.

Beliau mengakui banyak karya-karya esainya yang lenyap entah kemana. Ketidakcakapannya dalam mengarsipkan esai yang telah dibuatnya menjadi hambatan serius menurutnya saat ini.

Inilah rute jalan menuju rumahnya:

Jalur tempuh biasa dijangkau dengan naik pete’pete’ dan kendaraan pribadi. Dari arah Daya –sebelah utara- maupun Sudiang –sebelah selatan-, ada persimpangan empat. Tandanya, ada patung ayam jantan dan beberapa induknya yang berukuran raksasa saling bersilangan. Itu Pasar Daya. Kita belok ke arah Jalan Paccerakang. Terus saja sampai menemukan kelokan ke dua sebelah kiri jalan. Setelah itu, belok kiri seperti yang dimaksud.

Cobalah untuk mengemudi secara perlahan, jalanan mulai menurun dan beberapa tanjakan. Jangan berhenti sebelum menemukan pertigaan. Setelah itu, belok kiri lagi. Berhentilah jika kawan telah menemukan Apotek Bungadia. Disitulah letak rumahnya. Kompleks Hartaco Indah blok sekian. Ya. Rumah “Komunitas Sapi Berbunyi” sekaligus apotek. Rumah Asdar Muis RMS. Senior sekaligus guru  yang menginsiprasi bagi kami.

Kami pulang selepas hari berganti. Sabtu telah berubah menjadi minggu.

Kebersamaan Kompasianer Makassar di Gedung BI Lt. IV

Blogging Workshop. Sebuah kegiatan yang sama ku ikuti hampir setahun lalu di kota yang sama: Makassar. Penyelenggara kegiatannya pun sama: Kompasiana. Kupikir, ini kegiatan dengan pengulangan materi yang sama persis. Tapi, ada hal yang membuat saya tertarik untuk bergabung kembali dengan kawan-kawan Kompasianer kota Daeng. Apa kilah? Acara ini hanya diselenggarakan di tiga kota di Indonesia: Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Kelancaran dan kesuksesan kegiatan, pastilah diidak-idamkan oleh iB, Bank Indonesia Makassar, dan Kompasiana. Nah, oleh karenanya, kegiatan ini diberi nama ‘iB BlogShop Kompasiana’. Sehingga, persiapan yang maksimal termasuk konten materi BlogShop (Blogging Workshop) telah di-design sedemikian rupa agar peserta nantinya dapat belajar banyak dari event tahunan tersebut. Betul saja: keputusan ikut kembali BlogShop tidak kusesali sama sekali. Semua begitu berbeda.

Dukungan utama kegiatan diberikan oleh iB (Islamic Banking Perbankan Syariah). Walaupun demikian, ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya saya ucapkan untuk para penyelenggara BlogShopN5M. Pembicara Blogshop kali ini dihadiri oleh Mas Iskandar Zulkarnain (tetap cool dan santai seperti biasa), dan Kang Pepih Nugraha ( kulitnya terlihat lebih putih dan lebih atletis) yang juga membawakan materi BlogShop setahun lalu.

Oleh sebab, iB Bank yang mensponsori kegiatan “akbar” ini, dan karena alasan materi blogging yang tidak jauh-jauh dari dunia tulis menulis, maka Ahmad Fuadi didatangkan khusus memberikan sharing pengalamannya menulis novel based on true story Negeri 5 Menara yang filmnya memang disponsori oleh iB (Islamic Banking Perbankan Syariah).

Banyak kejutan: Master of Ceremony menyeruakkan debar-debar di awal acara. Jelas, kita belum tahu siapa tuan si pemilik debar-debar itu. Tiga lomba yang dipersiapkan khusus untuk acara BlogShop N5M di tiga kota. Pertama, Lomba Live Tweet. Hadiahnya bukan mainan: tapi sangat bisa dipakai untuk main game berjam-jam: Samsung Galaxy Y. Kedua, Lomba Reportase Event. Hadiahnya untuk tiga tulisan reportase terbaik: masing-masing akan mendapatkan Samsung Galaxy Y. Ketiga, Lomba Review Film Negeri 5 Menara. Hadiahnya: Samsung Galaxy note, iPad 2, dan Sony Experia. Wow…

Ruangan lantai empat, di Bank Indonesia Jl. Jenderal Soedriman No. 3A Makassar, sontak menjadi gaduh. Sekitar 170 orang Kompasianer sudah mulai memasang strategi ampuh untuk merebut ‘mainan luar biasa’ tadi. MC-nya cukup kocak juga dengan narsisme yang terindikasi ‘akut.’

Haha…seketika, debar itu timbul menghilang.

“Saya harus Ikut” pungkasku dalam hati.

Tidak akan ada pengulangan yang sia-sia, kecuali ada hal dan pelajaran baru yang bisa kita petik.

Seperti itulah kira-kira yang saya alami Sabtu lalu. Sesuatu yang sungguh tidak terduga. Mas Iskandar Zulkarnaen menyajikan kelanjutan materi Citizen Journalism dari apa yang dijelaskan setahun lalu. Materi itu mengenai bagaimana sebenarnya proses menulis yang kreatif dari awal hingga akhir. Juga konten-konten kreatif yang mesti ada dalam tulisan ketika blogging.  Atau dalam bahasa kerennya: Creative Writing. Hem….Dari segi penamaan judul dan bayangan saya tentang teorinya, rasa-rasanya masih terkesan angker. Meskipun kata ‘creative’ sudah melekat.

Oleh mas yang bertindak sebagai Community Editor kompas.com ini, digubahlah –hehe…kayak puisi- nama judul dan penyajian materinya dengan judul yang lebih baru –just outside from the box- dan fresh: Bukan Tulisan Apa Adanya. Bagitulah Mas Iskandarjet berusaha membuat kami terkagum sekaligus takjub.  Begitu menarik untuk disimak hingga akhir. Saya merasa hidup di zaman renaissance. Mencerahkan. Hehe…

Semua Tulisan adalah Tentang Detail Kehidupan

Kang Pepih mecoba mambaurkan kami dengan teknik penulisan “Naratif” itu sendiri. Mulai dari mengatur plot, karakter, setting, dan tema. Dan hebatnya, panduan yang beliau berikan adalah panduan untuk menulis apa saja. Entah itu artikel ilmiah maupun menulis feature news, dan lain sebagainya.

Satu kata untuk materi Kang Pepih Nugraha: awesome. Siapa yang nggak kenal dengan Kang Pepih. Di media sosial facebook, ada grup terbuka bernama ‘Nulis Bareng Pepih’. Nyaris hampir setiap hari ada saja postingan yang membuat saya, dan kawan-kawan yang nyantol di grup itu menjadi lebih paham dan percaya diri dengan kemampuan menulis mereka. Hal-hal yang sebetulnya sangat sederhana. Sama sekali tidak ada kesan menggurui.

Menulis itu, adalah semua tentang detail kehidupan.” begitu Kang Pepih menukas agak lirih tapi menghunjam dalam hati.

Kita menulis laiknya meng-over percakapan kita ke dalam tulisan. Jika kita memang memiliki kemampuan komunikasi dan riwayat hubungan intrapersonal yang baik dengan seseorang, insya Allah menulis itu mewujud mudah dengan sendirinya. Hanya perlu banyak latihan, latihan, dan latihan. Seorang guru besar di kampus saya pernah berujar “latihan menulis adalah menulis itu sendiri.” Setelah beberapa waktu berceritera, saya dan mungkin juga semua hadirin mengetahui fakta yang baru saja tersingkap: Kang Pepih tahu banyak tentang Makassar. “Ini kampung saya yang kedua.” ungkapnya.

Entah sudah berapa objek di kota Daeng yang telah direkam melalui penanya. Kami yang hadir semua terpana. Pernah berinteraksi secara intens dengan Ula Lagosi, seorang Profesor Linguistik di Universitas Hasanuddin. Tidak berhenti sampai di situ. Beliau juga telah menggarap tulisan mengenai Anci Laricci, tentang Iwan Tompo, dan tentang sinriliknya Arsyad Artado yang notabene hanya seorang pengamen jalanan di pinggir Pantai Losari ketika itu. Wow…Sekali lagi, menulis adalah berbicara tentang kehidupan. Kehidupan siapa saja, yang jelas itu memberi manfaat bagi diri kita dan bisa memengaruhi orang lain secara positif. Very-very impressif.

Kang Pepih meminta bantuan untuk lebih mengakrabkan kami dengan deskripsi dan narasi. Dua orang kompasianer menjadi volunteer, lalu naik, kemudian mendampingi Kang Pepih Nugraha. Namanya Imam Rahmanto dan Adlin. Saya kebetulan tahu keduanya. Sama-sama seorang jurnalis  di media kampus masing-masing. Nyatanya, menulis –seperti kata Kang Pepih Nugraha- yang menjadi ‘suara hati’ tidak semudah apa yang kita bayangkan.

Dengan sesekali gelak tawa dari seluruh peserta, keduanya bergantian mengungkapkan deskripsi tentang sebuah objek yang pernah mereka lalui. Pengalaman Imam Rahmanto yang baru pertama kali ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan kejanggalan Patung Sultan Hasanuddin-nya, kemudian Adlin dengan pengalaman diving di Pulau Padewakang di Kepulauan Spermonde, Kabupaten Selayar. Cerita mereka sangat seru bagi kami. Sang admin Kompasiana itu mengakhiri dengan beberapa saran dan perbaikan. Nah, sekarang saatnya: let’s write, guys…

Tertawa Sebelum Menulis

Pembaca acara juga tidak kalah serunya. Tingkah polah yang menurut saya lumayan unik. Dengan mengenakan setelan kemeja putih bersih bermotif batik di ujung lengan dan celana model khaki, menyelipkan games untuk para peserta sebelum acara dimulai dan ketika waktu istirahat tiba. Pokoknya, kami semua tergelak.

Seru-seruan itu muncul ketika para peserta games sudah mulai kepayahan dan saling menertawakan diri masing-masing. Salah satunya adalah permainan berhitung dengan kelipatan dan kombinasinya angka 7 (tujuh). Setiap menemukan angka 7, peserta harus mengganti angka 7 tersebut dengan kata ‘iB.’ Permainan yang sederhana, tapi butuh kesiapan dan fokus.

Permainan kedua: “Aku kau inie?” Games ini lebih kocak dan ancur abis dari yang pertama. Namanya saja sudah lucu.. Sebuah pisang diambil dari salah satu boks makan siang. “Harus diperagakan sesuai dengan apa kita menamainya” kata MC menginstruksikan permainan. Nah, oleh peserta games, menjelmalah pisang itu dengan korek telinga, sapu lidi, deodorant, sabun mandi, dan benda-benda aneh bin ajaib lainnya.

Haha…nggak ada matinya. Tapi, semua ada kompensasinya. Hadiah hiburan berupa beberapa tiket nonton film Negeri 5 Menara dan bingkisan dari iB (Islamic Banking Perbankan Syariah).

Negeri 5 Menara: Inspirasi Dari Pengalaman Nyata

Menulis itu: harus di-combine dengan membaca. “Kalau mau menulis, yah, mestinya membaca dulu, riset dulu, observasi dulu, lalu kemudian baru melakukan wawancara,” Ahmad Fuadi menegaskan. “Sehingga kesannya kita tahu banyak tentang persoalan tersebut dan pertanyaan yang kita ajukan itu mendalam karena telah melalui proses kognitif dan analisis yang baik.” lanjut pria berkacamata ini dengan lugas.

Begitu kata Ahmad Fuadi. Pengalaman menulis terbesarnya, beliau peroleh ketika masih menjadi wartawan majalah Tempo. Seakan-akan hal tersebut sudah merupakan prosedur tetap dari seorang Ahmad Fuadi untuk memulai menulis. Dan hal tersebut: bisa diterapkan sebagai prinsip menulis apa saja. Termasuk proses kreatif penulisan buku.

Saya bisa membaui ruangan kelas, mengingat kembali siapa yang bolos, dan siapa yang main-main” tukas mantan jurnalis VoA Indonesia ini dengan suara yang sedikit tergetar. Sekilas, pernyataan penulis membisikkan wangsit proses ‘Menulis Kreatif’ di hadapan seluruh Kompasianer: bahwa menulis harus tahu apa yang mesti di tulis.

“Buku ini ditulis dari hati, makanya sampainya juga ke hati.” ungkap Ahmad Fuadi.

 “khairunnaas tanfa’uhum linnas”. Ahmad Fuadi memberikan alasan terbaiknya untuk memulai proses kreatfinya menulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Apa itu? Ada dalam maksud dari hadits Nabi Muhammad yang disitir di atas: sebaik-baik manusia adalah, manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ini yang menjadi motivasi terbesarnya dalam menulis. Apalagi menulis yang based on true story. Ahmad Fuadi bercerita tentang kemandekannya menulis, akan tetapi, setiap rasa malas itu muncul, selalu yang diingat adalah prinsip kebermanfaatan itu tadi.

Pada dasarnya kita semua bisa menulis buku. Penulis mengisahkan, buku Negeri 5 Menara hanya ditulis dalam waktu satu setengah tahun. Seperti kita lihat sendiri, buku ini ngefek. Berubah menjadi film yang ditonton rastusan ribu orang, berubah menjadi lagu, menjadi drama, dan mungkin saja akan di suatu saat akan dibuatkan serialnya di televisi. kata penulis memberikan pengakuan. Sangat memberikan menginspirasi bagi saya. Semua kita: saya, kawan-kawan Kompasianer, dan kalian. Semua bisa melakukannya. Kita punya motivasi, kita punya catatan percakapan, catatan kehidupan, catatan perjalanan, peristiwa, dan bahkan kisah hidup orang lain bisa kita ceritakan. Seperti pengalaman Kang Pepih di kota Daeng.

Ahmad Fuadi memang punya pesona luar biasa. Tidak di film, tidak di novel. Semua berkerumun minta foto bareng dan book signing pada buku yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu ringkas. Acara yang semula dijadwalkan pada pukul sembilan pagi –termasuk registrasi dan pengambilan workshop kit- dan berakhir pukul tiga sore, molor menjadi jam empat sore. Hehe…kembali gaduh. Namun, kuyakin, itu semua demi eksistensi para Kompasianers. Haha…

Setelah materi usai, ada Bapak Irwan Thahir Manggala yang mewakili iB (Islamic Banking Perbankan Syariah) memberikan sedikit pengantar tentang iB dan kegiatan BlogShopN5M yang spektakuler.

Menulis apa saja. Apapun: sempatkanlah.

Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memulai menulis. Proses menulis kreatif, apalagi untuk nge-blog atau menulis buku, adalah sebenarnya untuk dibaca orang lain. Sudah saatnya kita mementingkan kualitas dan segera mulai mem-branding diri kita dengan hal-hal yang dianggap paling kita kuasai dan tentu saja: menarik.

Menulis yang bersumber dari hati, sampainya akan ke hati pembaca juga.” A. Fuadi membagikan kalimat pamungkasnya di akhir-akhir kegiatan BloggShopN5M. Sejenak, ini merupakan kesimpulan dari materi Creative Writing-nya Mas Iskandar Zulkarnaen dan Narrative Writing-nya Kang Pepih Nugraha.

Terima kasih, kawan-kawan Kompasianer Makassar atas kebersamaannya tempo hari.

Semoga waktu yang akan datang masih bersedia menjadi saksi akan pertemuan-pertemuan yang selanjutnya. Sampai jumpa di lain kesempatan. Amiin.

Sebelumnya: reportase ini saya posting di Kompasiana.

Tempora muntantur et nos mutamur in illis
“Waktu terus berubah dan kita pun berubah seiring dengannya”

Kepada kawan, kerabat, dan orang-orang yang saya kenal baik, pepatah latin itu sering saya sampaikan kepada mereka. Bahwa perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Pada akhirnya, kita semua akan berubah karena waktu. Apakah berubah ke arah yang lebih baik,  atau malah justru sebaliknya. Kalau kita katakan ada perubahan yang stagnan, itu tidak benar sepenuhnya. Umur yang bertambah, kondisi kesehatan yang tidak lagi prima karena usia pun adalah hasil permainan waktu. Ya. Kita berubah.

Perubahan bukanlah sesuatu yang turun dari langit, perubahan itu diciptakan sendiri oleh manusia dan alam. Di dalamnya ada proses yang terjadi. Kita belajar, kita bekerja, dan kita pun berusaha sekuat daya dan upaya agar tercapai hal yang diinginkan. Proses ini mendatangkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Sebagai makhluk Tuhan –tak ada yang lepas dari nilai transendental, atheis sekalipun- kita diajarkan tentang kemampuan manusia merubah nasib –karena dibekali akal pikiran dan hati-, meskipun tidak  untuk yang namanya takdir –karena punya iman- dalam menjalani hidup dan kehidupan di muka bumi.

Sementara perubahan sendiri menuntut semangat juang yang lebih sebagai anteseden. Semangat itu bahkan tidak datang dari orang lain, semangat itu malah berasal dari diri sendiri. Sekali lagi, waktu jualah yang akan menjawab semuanya. Sehingga, tugas kita adalah menciptakan perubahan ke arah positif dan mengantisipasi sekaligus mencegah perubahan ke arah negatif yang akan membawa kehancuran individu dan masyarakat.

Eksistensi “ke-Aku-an” (Argumen)

Kalau membaca, saya sering. Kebiasaan itu dimulai dari ‘paksaan’ orang tua yang terlalu sering mengajak weekend di toko buku. Sampai sekarang, saya selalu teringat-ingat tumpukan malajah Bobo yang sampai menyentuh langit-langit atap rumah yang dulu masih ngontrak. Kupikir, ini bekal yang lumayan. Membaca adalah jendela dunia. Pikiran menjadi sangat open mind dengan arus pemikiran dari luar, cakrawala berpikir menjadi sangat luas, sekali waktu kita welcome diajak menggunakan logika untuk berdialektika hingga jauh malam. Pastinya: kegiatan membaca mencegah pengerutan otak yang kemudian akhirnya mengalami perusakan kelak di hari tua. Sampai sekarang pun masih sama. Saya menyempatkan waktu membaca dan meanamatkan sebuah buku setidaknya dalam sepekan.

Tapi tidak dengan kegiatan menulis. Ini kelemahan saya. Aktivitas ini saya mulai baru 2006 silam. Ketika itu saya masih siswa kelas dua sekolah menengah atas di bilangan jalan AP. Pettarani Makassar. Dua orang guru mengajukan prasyarat untuk dapat naik ke kelas tiga: menulis karya ilmiah. Jadi, dua karya ilmiah yang harus saya buat untuk naik kasta menjadi penguasa semua fasilitas di sekolahan. Kelas tiga. Saya berpikir keras dan hampir putus asa. Tapi, akhirnya karya ilmiah itu hanya satu yang jadi. Itupun tanpa memerhatikan metodologi penulisan karya ilmiah yang baik dan benar. Menulis: saya mulai menyadari kegiataan ini yang sebenarnya sungguh mengasyikkan. Saya juga tidak tau, transformasi kekuatan dari mana sehingga berlembar-lembar tulisan saya hasilkan dalam waktu kurang dari dua pekan. Mungkin lebih karena saya punya buku, dan: saya membacanya.

Jikalau gajah mati meninggalkan gading, maka manusia mati meninggalkan namanya. Kembali saya mengutip pepatah. Pepatah tua dari seorang bijak bestari negeri sendiri. Apa yang akan diketahui orang lain tentang diri kita setelah ajal menjemput? Tidak ada. Kecuali pembicaraan ramai karib kerabat dan handai taulan beberapa hari setelah menyatunya kita dengan tanah. Segera setelah itu, manusia akan melupakan dan kembali berasyik masyuk dengan habitus yang rutin.

Lebih Dekat Dengan Jurnalistik

Kecuali, jika manusia meninggalkan sebuah pesan. Pesan itu disampaikan lewat karya, lewat tulisan. Mereka tau apa yang menjadi minat dan kegalauan kita semasa hidup. Apatah lagi jika tulisan dan karya yang kita hasilkan melibatkan kepentingan orang banyak. Akan terus menjadi perbincangan sampai kapan pun. Scripta manent verba Volant. Saya ingin ada perubahan. Saya punya semangat. Oleh karena itulah, saya ingin bergabung dengan Penerbitan Kampus Identitas Universitas Hasanuddin.

Setiap tempat adalah sekolah, dan Setiap orang adalah guru (Apologi)

Manusia belajar, belajar, dan terus belajar. Dengan itulah mereka bisa berubah. Menjadi pembelajar seumur hidup adalah tuntutan hidup. Jika tidak, waktu akan menggilas habis usia kita tanpa pernah menghasilkan karya apa pun. Saya ingin belajar.

Identitas memang bukan media mainstream kebanyakan, ruang lingkup peliputannya dan segementasinya beda. Oleh sebab Identitas terikat dengan pihak universitas yang membiayai proses naik cetak koran kebanggaan segenap civitas akademika di kampus merah tersebut. Akan tetapi, menurut saya, ‘Identitas’ meruapkan kekosongan Idealitas yang begitu dibutuhkan.

Idealitas itu pastinya bukan tanpa hambatan, tantangan dan hantaman adalah hal lumrah untuk sebuah media yang mencoba eksis dan menjunjung ethics. Saya melihat dalam beberapa catatan alumni Identitas yang begitu memprovokasi untuk menghidupkan kondisi ideal sebuah media kampus yang tetap setia dengan core  “all about UNHAS” dengan segala dinamikanya.

Pada sebuah catatan, Pimpinan Redaksi ‘Identitas’ pernah mengalami intimidasi dan tindak kekerasan. Majalah Tempo yang dibredel 1994 di rezim otoritarian Presiden Soeharto juga pernah mengalami hal yang sama. Kemudian bangkit lagi pada 1998 pasca kejatuhan Soeharto setelah melalui proses yang lazim kita kenal dengan Reformasi. Media features ini terbilang cukup sukses dalam melanggengkan ‘Azas Djurnalisme’ yang pernah dipekikkan dengan lantang oleh Goenawan Muhammad di tahun pertama dan edisi pertama Majalah Tempo: 41 tahun yang lalu.

Jika menilik Identitas, dengan keberadaan dan konsistensi Identitas hingga sekarang, setidaknya membuktikan media kampus ini layak menghasilkan para jurnalis-jurnalis handal sekaliber Tempo. Bahkan lebih baik. Dan: itu terbukti.

Tulisan-tulisan dan dan catatan kenangan itu dibuat oleh orang-orang hebat yang pernah saya temui dalam beberapa peristiwa dan episode kehidupan saya sebagai seorang mahasiswa tahun ke empat. Termasuk Nasrullah Nara, Dahlan Abubakar, Amril Taufiq Gobel, Lily Yulianti Farid, Moh. Hasymi Ibrahim, Ryana Mustamin, Muhary Wahyu Murba, Judy Rahardjo, dan lain-lain. Dari mereka, saya pernah belajar. Mereka guru-guru yang diam. Pernah bertatap muka sekali atau dua kali, setelah itu saya menyambangi karya dan tulisannya di media internet maupun media cetak. Tulisan mereka, dulu, saya kerap baca di malam-malam insomnia.

Sekarang, ternyata, saya berjodoh nama dengan mereka. Cuma satu alasan: mereka alumni Identitas. Saya mendapatkan nama-nama mereka berada dalam boks redaksi Identitas dalam suatu masa. Pengaruh itu begitu kuat, internalisasi nilai-nilai dan semua ilmu yang mereka peroleh di Identitas menyemangati saya untuk ikut bergabung dengan PK (Penerbitan Kampus) Identitas. Bagi saya, Identitas dan apa pun nanti namanya, merupakan sekolah. Sekolah yang bukan dipahami dalam konteks ruang-ruang sempit untuk belajar. Tapi, lebih dari itu. Identitas: dari pengakuan orang-orang adalah sekolah kehidupan. Dan setiap orang di dalamnya berarti guru.

S.M. Noor, penulis novel Perang Makassar yang karyanya saya baca sebulan lalu, juga alumni Identitas. Terkejut melihat beliau ada di hadapan kami sebagai senior di Identitas. Saya tahu beliau guru besar di FISIPOL Univiersitas Hasanuddin. Beliau justru meminta waktu –technical meeting Diklat Jurnalistik 38 dua  pekan lalu di sekretariat Identitas- untuk memberikan arahan dan berbagi pengalaman semasa masih mahasiswa dengan sematan predikat awak Identitas.

Berceritera romantika dan kegetiran masa lalu. Kata-kata yang paling saya ingat betul dari beliau adalah “Identitas, adalah tempat, wadah, sekaligus sekolah jurnalistik di kalangan mahasiswa yang paling baik di Indonesia Timur dari dahulu hingga sekarang.” Sejam pun tak terasa. Tak apalah. Dedikasi, komitmen, integritas, dan kerjas keras, adalah beberapa hal yang beliau sempat ajarkan. Mohon maaf bila alasan ini kental dengan penokohan atau figur yang saya maksud di atas. Itupun bisa dijadikan dasar keinginan saya bergabung di Identitas. Saya ingin belajar.

Danau UNHAS Dalam Infra Red: Indah!

Universitas Hasanuddin, Makassar. Jika kawan datang ke kota ini melalui jalur udara, maka akan kelihatan  lanskap  kampus ini dari balik kaca kendaraan pete’-pete’ yang akan mengantarkan kawan ke pusat kota. Mula-mula, ada pintu dua kampus di sisi kanan jalan yang langsung menyuguhkan Rumah Sakit Pendidikan Unhas DR. Wahidin Sudirohusodo. Belakangan, di bangun pula Pusat Kesehatan terbesar di Indonesia Timur yang berbasis world class. Juga dikelola oleh Universitas Hasanuddin.

Sejurus kemudian, tidak berapa lama lagi, kawan akan melalui pintu satu Unhas yang megah. Unhas, sebagaimana nama Hasanuddin –dari nama Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin- yang menyertainya, memiliki lambang dasar Ayam Jantan. Sultan Hasanuddin memiliki julukan “Ayam Jantan dari Timur” yang diperoleh dari Pemerintah Kolonial Belanda. Lambang itu berdiri gagah sekaligus angkuh.

Sebuah identitas pengenal nama kampus terbentuk dengan anggun bertulisan “UNIVERSITAS HASANUDDIN” dengan warna latar yang didominasi merah. Backlight tulisan tersebut di kala malam menambah nuansa berani dan tak gentarnya kampus para intelek dari Timur Indonesia ini menghadapi mondialisasi (baca: globalisasi) zaman.

Jika tidak ada halangan berarti, kawan! Datangi dan jelajahilah kampus terbesar di Indonesia Timur ini. Saya yakin banyak hal yang akan kalian peroleh dengan melintasi seluruh fakultas, lorong-lorong, koridor, pusat kegiatan mahasiswa, auditorium, utamanya perpustakaan. Bila dibandingkan dengan universitas lain di Indonesia yang berbasis keilmuan, Unhas memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa.

Alumni: Rekognisi

Karakter ulet, jujur, pekerja keras, dan pantang menyerah yang orang Sulawesi Selatan yang jamak dikenal seantero Indonesia menjadikan para alumninya disegani berbagai kalangan. Di mana pun mereka bekerja dan berkontribusi untuk bangsa. Kawan! Terakhir yang terdengar adalah salah satu Dosen Tetap Unhas menjadi anggota Dewan Riset Nasional. Suatu amanah bangsa yang memang pantas diberikan kepada civitas akademik di Unhas. Lembaga ini bertugas membantu kementerian Riset dan Teknologi dalam perencenaan skala prioritas riset di Indonesia.

Alumni Universitas Hasanuddin sebagian besar memiliki sikap loyal dan integritas -tanpa meninggalkan profesionalitas- terhadap almamater. Mereka mempunyai kontribusi kinerja yang baik di lembaga-lembaga negara seperti Kementerian, Lembaga Peradilan -yudikatif- seperti MA (Mahkamah Agung), MK Mahkamah Konstitusi, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia), KIN (Komite Inovasi Nasional), Puspiptek, dan masih banyak lagi lainnya.

Saya pernah berkesempatan berbincang dengan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang juga Wakil Ketua Badan Standar Nasional Indonesia (BSNI), Prof. Dr. Ir. Syamsir Abduh di Makassar akhir tahun lalu: beliau, alumni Universitas Hasanuddin. Sungguh pertemuan yang membuat saya terkesan. Banyak contoh dan pemisalan baik dari Unhas yang kawan bisa petik. Tidak terkecuali Rektor Unhas, Prof. Dr. Idrus Paturusi. Beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Rektor Indonesia.

Peningkatan kapasitas tenaga pengajar selalu dilakukan Unhas dalam menjamin atmosfer akademik terutama dalam rangka peningkatan kualitas perkuliahan tata muka di kelas maupun di laboratorium.

Visi Maritim (Ambisi)

Kawan! Kupikir Unhas tidak melupakan gejolak muda dan peran  mahasiswanya sebagai kontrol sosial dalam kehidupan berbanngsa dan bernegara. Ini yang menjadikan Unhas begitu hebat di luar. Mahasiswa begitu mudahnya melakukan dan mengagendakan kegiatan yang kadang berskala nasional.

Tembok pintu satu Unhas selalu dipenuhi dengan baliho dan poster kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang bernafaskan akademik, perluasan jaringan, dan keterampilan manajerial organisasi. Kawan! Tembok itu tidak akan pernah kosong melompong ditinggal agenda mahasiswa. Sebab disitulah letak dinamika mahasiswa dalam rangka menghidupkan nafas perubahan.

Mungkin birokrasi universitas sangat mengerti dengan hal ini. Kawan! Tidakkah kau ingat acara PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional) XXIV medio 2011 lalu? Acara itu begitu megah dengan dua ribu-an mahasiswa yang datang dari pelbagai kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka terlihat di setiap sudut kampus Unhas. Menikamati Unhas yang sebentar lagi akan tumbuh dengan visi MARITIM (Manusiawi, Arif, Integritas, Tangguh, Iniovatif, Mandiri). Ini ambisi. Ini yang menjadikan Unhas menarik di Makassar dan di luar sana.

foto:  deedztography.blogspot.com

Kabut Turun Perlahan di Tana Tengngah, Maros

Hampir sepekan lalu, saya harus mengikuti –nyatanya saya hadir- kegiatan OAB (Orientasi Anggota Baru) sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang concern di bidang penelitian dan keorganisasiaan. Tempatnya di kawasan perkemahan dan peristirahatan Tanah Tengngah, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Pasal saya wajib hadir? karena bertindak sebagai salah seorang panitia pengarah dalam kegiatan tersebut.

Saya senang. Entah, kali yang keberapa, ada rasa haru yang menyeruak. Meskipun dengan otoritas dan keterbatasan kewenangan yang diberikan oleh panitia pelaksana, sedikit banyak kami -sebelas orang Panitia Pengarah- membidani lahirnya 45 amunisi baru lembaga tersebut. Kami kader di lembaga tersebut. Dan: kami punya tanggung jawab moral dan tanggung jawab kekaderan. Menyiapkan segala sesuatu dari awal hingga akhir, tentunya sangat berat bagi kami. Tapi, semua dijalani dengan rasa harap-harap cemas yang besar bagi keberlangsungan penerus lembaga ke depan.

Setiap keputusan dan kebijakan mengenai peserta (kondisi awal dengan 400 pendaftar; kondisi akhir dengan 45 peserta OAB) kami bicarakan baik-baik. Semua untuk lembaga dan nama baik lembaga di kemudian hari. Walhasil, semua kami pertimbangkan dengan sebenar-benar pertimbangan. Jikalau pernah ada benturan pandangan, itu tidak sampai menimbulkan kondisi chaos. Kami masih bisa tersenyum bahkan tertawa lepas bersama-sama. Saat-saat yang tidak bisa saya lupakan untuk semua Panitia Pengarah: Tismi Dipalaya, Wahyuddin MY, Rahmat Fajar Asis, Ma’ruf M. Nur, Hikmawati Sabar, Andi Asrafiani Arafah, Muhammad Arsyad, Nurfadillah Umar, dan Burhanuddin.

Rapat, rapat, dan rapat.

Diskusi, diskusi, dan diskusi.

Kerja, kerja, dan kerja.  

Begadang: ini  kami lakukan di akhir-akhir masa kerja tiga bulan.

Ada keputusan bagi peserta yang kami bijaki, dalam artian kami membuat  kebijakan untuk diputuskan di atas peraturan dan tata tertib yang ada. Kemarin-kemarin, terlalu banyak kisah dari dari calon peserta OAB yang menyentuh sisi manusiawi. Kami juga kaum humanis dalam maksud yang sesungguhnya. Oleh karena itulah, beberapa keputusan diambil berdasarkan sudut pandang tersebut. Meskipun sebenarnya sama saja, mereka sebenarnya nyaris tidak bisa ikut sampai pada tahapan pengukuhan. Sebab, ada-ada saja panitia pengarah yang luluh hatinya di detik-detik terakhir deadline. Luput dari pengawasan kami semua.

Tapi yang jelas, lebih banyak keputusan yang bisa kami pertanggungjawabkan, karena memang begitulah tujuan peraturan itu dirancang. Tiga hari berikutnya, mereka yang berjumlah 45 orang telah dikukuhkan dengan sumpah di saat waktu subuh masih beberapa jam lagi. Ayam jantan pun masih enggan meng-inisiasi aktivitas sahut-menyahut. Ada yang salah dari prosesi pengukuhan.

Panitia Pelaksana membuat kesalahan besar yang tidak bisa kami tolerir. Semuanya sudah berlangsung, dan kami sebenarnya tidak mendapatkan esensi dan ‘sakralitas’ rutinitas tahunan ini. AD (Anggaran Dasar) dan ART (Anggaran Rumah Tangga) dilabrak begitu saja. Beberapa senior dari kami mengatakan, sumpah tidak sah. Ya sudahlah, para pengurus dan Panitia Pelaksana yang akan atur mekanisme pengulangan sumpah itu jika ingin diulangi dikemudian hari.

Kolam Renang Dengan Lokasi Yang Eksotis

Meskipun demikian, tidak ada sama sekali penyesalan datang ke tempat pengukuhan yang begitu indah seperti di sana.

Wah, pokoknya sangat lumayan. Selain masalah  amanah dan tanggung jawab, tempat ini bisa digunakan untuk me-refresh tubuh selama kurang lebih tiga bulan bekerja dalam satu tim secara kolektif kolegial. Enak, kolam renangnya ada tiga. I was very-very enjoy and relax. Dua yang gratisan, satunya lagi mesti bayar tiga ribu perak. Juga ada tempat karaoke-an, kantin, meja bilyard, aula, mushalla, dan kamar mandi yang tersebar di banyak tempat.

Kopi Instan Ibu Penjaga Villa…

Satu hal yang tidak bisa saya lupakan, pesan kopi instan di kantin. Pagi, dan sore hari. Haha… Kebiasaan ini saya bawa dari rumah. Pagi dan sore adalah waktu yang sangat tepat dan tenang untuk menyentuh dan mengulum bibir cangkir kopi. Tapi menandas kopi hingga ampas, tidak bisa selalu saya lakukan. Tidak biasa.

Kopi pagi:
saya akan duduk dengan manis di depan televisi si ibu penjaga villa. Mencari siaran tv one, sambil menunggu pesanan kopi untuk mengusir dan membunuh rasa dingin. Panitia dan peserta yang tidak mau antri di WC, menyerobot juga kemari.

Atau juga, saya akan memegang perimeter gelas itu dengan kedua tangan. Masuk ke tenda salah seorang teman, dan memulai perbincangan ringan ala orang kedinginan.

Kopi sore:
saya akan duduk pada tepian bale-bale (tempat duduk lebar berbahan kayu atau bambu) di pinggir kolam renang dengan secangkir kopi di depan kaki yang sedang dalam posisi menyila. Gelas dan alasnya tidak serasi. Kalau match, kemungkinan saya berada di dalam kafe. Haha…

Kolam renang tersebut tidak biasa. Berada di atas bukit. Pemandangan yang terhampar di depannya berupa lembah. Lembah yang sungguh indah luar biasa. Kesannya seperti berada dalam arena resort mewah di pulau tak berpenghuni. Jutaan spektrum cahaya memendarkan beribu-ribu macam warna. Hijau, warna yang satu ini selalu atraktif di segala kondisi dan medan.

Nah, jika malam-malam insomniaku mulai menyergap, saya jadi agak menyesal menyeruput secangkir demi secangkir penghasil kafein itu. Saya jadi kurang tidur. Saya juga takut bagian bawah kelopak mata saya akan menghitam (layaknya seorang panda) dan membentuk kantong (seperti kondisi para lanjut usia).  A myth? I don’t know! Hehe…

Beralih ke teh? Akan saya coba suatu saat nanti. Ini juga saran ibu saya yang telah resah dan mendesah gundah. Anaknya jadi pengidap kafein. ‘Dee’ dalam kumpulan cerpennya ‘Madre’, mengistilahkan habitus yang kurang baik ini dengan nada yang sedikit mengejek: ‘pemuda overdosis kafein’. Meskipun, itu ditujukan kepada anak-anak muda Jakarta, tetapi setidaknya fenomena ini semakin menggurita di kota-kota besar. Makassar tidak luput malahan.

Jika Anda orang Makassar, sudilah orang-orang mengajak saudara minum kopi di starbucks coffee, coffee tiam, j-co, dan tempat-tempat yang lumrah berbagi aroma saat barista memeragakan ritual pembuatan kopi. Orang-orang sudah pada memaklumkan kegiatan yang dibaurkan dengan spending night membincangkan diskursus yang lagi memanas berdampingan dengan kopi panas. Kegiatan ini lebih disenangi daripada Anda diajak untuk makan di sebuah restoran. Harga dan rasanya masih pas di kantong. Haha…

Nikmat kopi itu  begitu tidak tertahankan. Saya teringat buku Chicken Soup for the Coffee Lovers. Kumpulan kisah, pengalaman, dan hikmah (mungkin) yang brilian dari para penggemar kopi di seluruh dunia. Anda boleh baca di toko-toko buku terdekat. Saya tidak akan heran sampulnya telah terbuka beberapa eksemplar. Beberapa orang menjadi maniak dengan karya Mark Victor Hansenn dkk tersebut.

Sejauh ini, saya menemukan hubungan yang positif antara kopi dan kegiatan begadang yang dilakukan anak-anak muda kala malam. Saya masih berumur 22 menjelang 23 tahun. Ukurannya belum sampai seperempat abad. Masih muda dong. Jadi, saya tahu lah apa yang mereka lakukan hingga dini hari. Apa lagi kalau bukan begadang ditemani bergelas-gelas kopi. Naif? Saya rasa tidak demikian.

Beberapa biografi dan autobiografi orang-orang besar yang pernah saya baca, menyebutkan bahwa mereka menghabiskan waktu malam-malam mereka dengan menulis, membaca, menelaah, dan berdiskusi untuk urusan bangsa dan negara. Presiden Republik Indonesia ke-III BJ. Habibie (saya baca tiga buku biografi beliau) malah hanya tidur tiga jam setiap hari. Waktu tidur yang dipangkas si “Mister Crack Random” ini digunakan untuk beribadah, bekerja, dan belajar. Jangan tanya sama saya ya, hehe… Beliau bisa menghitung seberapa besar keretakan acak pesawat dalam hitungan mol. Rumusannya tersebut digunakan di seluruh text book mata kuliah aerodinamika dan aeormodelling. Wow..encer juga tuh otak.

Mereka-mereka itu percaya, tidur hanyalah persoalan kebiasaan. Normal waktu istirahat malam relatif berbeda untuk semua orang. Mulai dari rentang lima hingga delapan jam. Okelah, kita patok delapan jam untuk tidur setiap malamnya. Kita akan sehat insya Allah, dan kita terhindar dari penyakit gangguan fungsi hati. Akan tetapi, bukankah kebiasaan ini bisa kita kurangi sejam hingga tiga jam? Pasti bisa. Sekali lagi, ini hanya soal kebiasaan.

Mari kita pikirkan bersama, jika seandainya waktu tidur yang kita korbankan tersebut digunakan untuk membaca, menulis, dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Berapa banyak pekerjaan yang bisa kita selesaikan? Berapa banyak gagasan ces pleng yang akan dilontarkan? Anak muda, di usianya yang muda tidak butuh tidur panjang hingga delapan jam. Tidur adalah soal kualitas. Jika saya tidak tidur semalaman, saya dan kita semua sanggup meluruskan punggung hanya sejam. Setelah itu, kembali bisa beraktivitas seperti sedia kala. Dan itu pernah saya lakukan beberapa kali. Termasuk malam ini. Don’t postpone what you can do today until tomorrow.

Situasi di Tenda Pada Pagi Hari. Ayo, mari makan!

Mari Berkemah…

Jumlah peserta OAB (Orientasi Anggota Baru) ada 45 orang. Dibagi dalam 7 kelompok outdoor dengan anggota enam hingga tujuh orang peserta. Mereka wajib bawa perlengkapan untuk hidup mandiri sebagaimana di rumah dan kos-kosan masing-masing. Tenda, terpal, alat-alat masak, bahan makanan untuk tiga hari, pakaian outdoor, dan rupa-rupa yang tidak bisa saya ingat satu persatu.

Survive atau kemampuan bertahan hidup, adalah pelajaran pertama untuk para peserta. Meskipun alam terbuka ini dikelola dalam sebuah kawasan sehingga fasilitas outdoor yang kami jadikan standar melebihi batas kewajaran, namun fasilitas tersebut kami batasi penggunaannya. Bahkan, ada yang tidak kami perbolehkan sama sekali. Melanggar: get out from here, right now. Hehe… sangar. Alam terbuka dan beberapa kemah yang berdiri patut menjadi saksi. Hanya saja, tidak ada dari mereka yang memasak dengan tungku tanah liat. Di hutan banyak kayu bakar. Itu baru namanya masak di alam. Alat masak mereka adalah kompor gas mata satu dan kompor hock yang sudah melegenda di kalangan ibu-ibu. Haha…

Pelajaran kedua, tuntutan menjadi pemimpin dalam skala mikro. Setiap tenda yang berjumlah tujuh dan seluruh penghuninya, kami bagaikan sebuah rumah dan keluarga kecil. Ada bertugas memasak, ada yang mencuci peralatan makan,  juga ada yang menyapu, membersihkan kotoran di luar tenda, memotong alang-alang, dan  mengatur ransel-ransel berukuran rata-rata 60L yang sementara berpencar-pencar dalam tenda. Memikirkan persediaan bahan makanan, dan apa yang mesti mereka masak untuk makan pagi, siang, dan malam pun tidak kalah pentingnya. Kami melihat ini sebagai aktivitas yang seru tapi serius.

Mereka butuh keterampilan manajemen sederhana. Bagaimana mengambil keputusan di antara mereka ber-enam atau ber-tujuh. Pastinya, seorang pemimpin telah diangkat untuk itu. Namun, kesediaan mereka untuk mulai berdiskusi dengan wajar, dan tidak mementingkan ego pribadi adalah sesuatu yang penting bagi kami di sisi lain. Ini mengajarkan kepada mereka arti dari sebuah keputusan.

Dalam manajemen keorganisasian, pengambilan keputusan ini lazim disebut Pareto Analysis. Intinya, putuskan sesuatu berdasarkan prinsip prioritas. Yang mana paling penting dan sangat mendesak, itulah yang mesti didahulukan. Tidak ada makanan yang kami sediakan. Tidak masak, berarti tidak makan. Tidak makan, berarti mereka siap lapar. Siap lapar, berarti mereka harus pulang. Harus pulang, berarti tidak jadi dikukuhkan sebagai anggota baru. Haha…

Pelajaran ketiga yakni, memahami karakter seorang teman. Salah seorang sahabat Rasulullah, pernah berujar di suatu masa, ‘jika  kau ingin mengenali karakter saudaramu, ajaklah ia safar (bepergian) selama beberapa hari. Niscaya kau akan tahu ia seperti apa.’ Kira-kira redaksinya seperti itu. Kawan-kawan yang sering bepergian bersama, tahu banyak makna dan perintah kalimat ini.

Sama. Lebih kurangnya, saya pun mengalami hal yang sama. Oleh sebab, secara rutin saya ikut kegiatan hiking dan tracking selama beberapa hari ditemani teman-teman kecil ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga menjelang masa kuliah. Dalam memori yang masih membekas, kita bisa menemukan dan mengidentifikasi karakter-karakter teman yang kita ajak bepergian. Ada tipe teman yang egois, ada yang suka menolong, ada yang cuek, periang, dan lain-lain. Alih-alih menghilangkan kepenatan di alam terbuka, kita juga dituntut untuk terus bersikap waspada, dan terkadang mengamati perilaku teman. Apa lagi ya, yang akan mereka lakukan ketika terjadi seperti ini dan itu? Haha… Penting untuk saling mengerti kondisi satu sama lain.

Instruksi Outbond Dari Kakashi (Kanda Rahmat Fajar Asis)

Outbond Asyik…

Bagi peserta OAB (Orientasi Anggota Baru) kali ini, seorang kawan panitia pengarah dari Jurusan Psikologi mendesain dan merancang beberapa permainan dalam outbond. Inilah pelajaran memahami karakter satu sama lain yang coba kami selipkan. Mereka akan berjalan dalam lima kelompok terpisah dengan lima pos persinggahan. Setiap pos punya haling rintang yang berbeda-beda. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak akan mereka lupakan seumur hidup.  Kecuali ada yang mengidap amnesia di kemudian hari. Haha… Ada outcome value yang ingin kami hasilkan dan tanamkan dalam diri setiap peserta.

Kami, Panitia Pengarah yang bertugas menjadi empunya setiap pos permainan, mendengarkan dengan saksama uraian tata cara permainan yang dimaksudkan. Dibantu dua orang yojimbo (Jepang: pengawal).

Penjaga Pos. Mukanya Tidak Kelihatan. Anonim: 2012

Semua berlangsung seru dan menarik hingga refleksi di akhir. Saya tidak bisa menerangkan begitu banyak. Kami terpisah. Track-nya cukup menantang untuk pemula. Lintasannya cukup panjang dengan waktu tempuh satu jam perjalanan memutar pos satu lalu sampai finish di pos lima. Itupun dengan tenaga yang sudah tersisa dua pertiga. Nah, para peserta akan menjalaninya bersama-sama. Berusaha untuk tetap utuh dan kompak dari awal hingga akhir. Hujan yang turun selama peserta tracking menaiki dan menuruni lembah, membuat kami cukup antusias.

Sebab, tantangannya menjadi lebih berat. Angin lembah yang bertiup cukup kencang menjadikan tubuh menggigil kedinginan. Untung semua baik-baik saja. Panitia Pengarah, Panitia Pelaksana, dan Peserta. Utamanya kami, Panitia Pengarah. Kami pun harus tahan banting. Jangan sampai kalah fisik dengan peserta. Beberapa dari mereka bahkan dalam kondisi sakit. Memaksakan ikut kemari adalah tekad baja yang luar biasa.

Menjelang sore hari (sekitar pukul tiga), semua sudah sampi di pos awal. Bersih-bersih, kemudian istirahat. Kaki saya jeblok. Pucat. Terus bergetar. Membentuk guratan-guratan yang tidak diketahui polanya. Saya hanya bisa meringkuk menyedakkan tangan memeluk tubuh yang hampir menggigil. Akhirnya usai sudah. Peserta masih pada semangat. Mereka sungguh unik dan menarik. Sulit menemukan bandingan mereka di tengah kondisi pragmatis mahasiswa.

Menikamati Perjalanan. Sampaikan Berita Kepada Kawan.

Pemudi Yang Resah…

Ini yang saya tunggu-tunggu, jadwal kepulangan ke Makassar. Setelah berenang puas di kolam renang, saya prepare, packing, dan bersiap mengikuti acara penutupan oleh Panitia Pelaksana. Wajah-wajah kelelahan tidak bisa kami sembunyikan, akan tetapi, forum penutupan ini pesan dan kesan akan disampaikan oleh mereka: para amunisi baru. Kami dengarkan semuanya dengan penuh perhatian dan rasa suka cita yang dalam.

Dalam forum ini, permintaan maaf secara terbuka juga kami sampaikan kepada segenap elemen lembaga yang hadir. Mulai dari yang bertugas mengangkat peralatan hingga kepada yang bertugas memasak dan cuci piring untuk kami semua.

Di antara seluruh anggota baru, ada yang cukup menarik. Entah ini diperhatikan atau tidak oleh yang lain. Salah seorang anggota baru yang namanya saya kurang tahu. Seorang perempuan. Motivasi yang ia utarakan berbeda dari yang lain terkait keinginannya bergabung bersama kami di lembaga. Apakah itu?

Dengan setengah bercanda ia mengatakan: ‘mau cari tempat makan gratis’. Saya belum cek ulang, apakah itu dia cantumkan dalam essai atau tidak. haha…ada-ada saja.

Dengan aksen Malasyia-nya yang sangat kental dia mengungkapkannya dengan panjang lebar ceritanya selama tiga bulan lamanya, dari awal hingga akhir. Kami bosan juga. Tapi dari ceritanya, saya yakin dia sebenarnya resah dan peduli. Mahasiswi Jurusan Matematika, baru pula. Tidak ada yang membuat dia tertarik untuk ikut seleksi tahap dua (Focus Group Discussion) kecuali tema FGD yang dibebankan kepadanya.

Tema pertama? KPK. Dia tidak tahu apa itu KPK. Padahal dia tinggal di kampung halaman Ketua KPK terpilih, Abraham Samad. Tidak tertarik sama sekali. Maklumlah. Tema kedua: ASEAN Community 2015. Secara terang-terangan dan jelas, dia mengungkapkan minat dan kepedulian yang besar terhadap masalah regional ini. Belum ada satu pun mahasiswa yang saya temui menyatakan diri tertarik mengikuti perkembangan masalah-masalah internasional, khususnya isu-isu regional di kawasan ASEAN. Saya pun bahkan tidak mengikuti dengan baik persoalan ini. Kurang lebih, menurut dia, hal tersebut menyemangatinya untuk kembali ikut seleksi di lembaga kami.

Idealnya, mahasiswa sebagai kaum intelek di tengah masyarakat, seharusnya memiliki kepekaan yang besar terhadap masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, ideologi, sampai ke masalah hubungan bilateral dan multilateral negara tercinta Indonesia. Apalagi, Indonesia adalah negara dunia ketiga. Digoncang sedikit saja, sudah oleng. Aktifnya mahasiswa dalam usaha memahami dan memecahkan solusi persoalan bangsa merupakan agenda mendesak. Sebaliknya, kegamangan, apatis, dan belitan kapitalisme global  yang melanda mahasiswa menjadi bumerang yang akan menghancurkan bangsa ini 20 atau 30 tahun ke depan.

Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Semoga.

Bersama Kawan dan beberapa Rekan

Kami, menunggu. Jika yang pemudi tadi katakan hanya sebatas penghias retorika, itu hanya omong kosong menghabiskan waktu.

Kami butuh bukti nyata.

Sebelum pulang, saya masih sempat memesan segelas kopi pada ibu penjaga villa. Airnya kurang panas. Kurang puas. Sekali lagi, saya menyeruput dan mengulum bibir cangkir kopi.

Film Leap Year: Amy Adams (Anna) berencana melamar Matthew Goode (Declan) Pada 29 Februari

Tulisan ini saya ambil dari Harian Kompas cetak tertanggal 1 Maret 2012.

Akibat saya yang kurang kerjaan, tulisan ini saya ketik ulang di notebook, kemudian saya posting hari ini.

Menariknya, tanggal 29 Februari cuma ada empat tahun sekali. Lazim disebut dengan tahun kabisat (Leap Year). hehe, semua orang juga pada tahu.

Selamat membaca, semoga menambah sedikit ilmu untuk Anda.

****

Menjadi seorang yang lahir di tahun kabisat, atau lebih spesifik lagi tanggal 29 Februari, boleh jadi bisa sangat menyenangkan. Hal itu karena di atas kertas setiap orang yang lahir di tanggal itu bisa tercatat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.

Sebut saja Mary Ann Brown, yang lahir pada 29 Februari 1932. Jika mengacu pada penanggalan normal, dengan perhitungan 365 hari per tahun, Brown seharusnya sudah berusia 80 tahun. “Tahun ini saya merayakan hari lahir ke-20. Padahal usia saya sebenarnya sudah 80 tahun.” Ujar Brown.

Brown sebenaranya adalah penggagas perayaan Festival Tahun Kabisat, yang biasa diperingati di Kota Anthony, perbatasan New Mexico dan Texas, sejak tahun 1988.

Tanggal 29 Februari biasanya Cuma muncul setiap empat tahun sekali. Terkecuali di tahun-tahun yang dua digit angka terakhirnya terdiri dari dua angka nol, seperti tahun 1900 dan tahun 2100.

Dari situ persoalan muncul. Mereka yang kebetulan hidup melalui tahun seperti itu bisa dipastikan bakal kehilangan kesempatan berulang tahun “empat tahunan”-nya tadi. Mengingat tahun 2100 tidak ada tanggal 29 Februari, maka setiap orang yang lahir di tahun kabisat dan berulang tahun terakhir pada 2096 baru akan kembali merayakan ulang tahunnya di tahun 2104, atau delapan tahun kemudian.

“Waktu delapan tahun pastinya sangat panjang bagi siapa saja untuk tidak merayakan ulang tahunnya sendiri,” tulis Peter Brouwer dalam surat elektroniknya, yang dihiasi ilustrasi emoticon wajah sedih.

Brouwer bersama Raenell Down mendirikan klub online bagi mereka yang lahir pada tanggal 29 Februari. The Honor Society of Leap Year Day Babies, di tahun 1997. Saat ini klub tersebut beranggotakan 9.000 orang di seluruh dunia.

Namun, persoalan yang dihadapi mereka ternyata belum habis. Sistem dan mensyarakat kerap “mendiskriminasi” mereka yang lahir pada tanggal 29 Februari. Menurut Brouwer, pihak-pihak yang menyangkal keberadaan tanggal 29 Februari menyebut tanggal itu tidak sah atau cacat.

“Sebuah perusahaan asuransi memaksa saya mencantumkan tanggal 1 Maret sebagai tanggal lahir hanya karena sistem komputer mereka menolak dan tidak mengenal tanggal 29 Februari,” keluh Brouwer.

Kondisi serupa bahkan terjadi pada system perusahaan internet raksasa macam Google, yang tidak memungkinkan para penggunanya meng-update tanggal kelahiran mereka menjadi 29 Februari.

Dalam kasus lain, juru bicara perusahaan program computer raksasa dunia Microsoft mengaku belum memperbaiki program Microsoft Excel mereka yang sangat terkenal terkait persoalan tadi. Mereka khawatir upaya perbaikan malah hanya akan berdampak sangat besar kepada pelanggan mereka.

Lebih sial lagi, dengan sistem komputer macam itu praktis setiap orang bekerja tanpa dibayar pada tanggal 29 Februari. Sistem komputer terkait penggajian yang dipakai dipastikan tidak mengenal penanggalan itu.

Sumber gambar: greecko.files.wordpress.com

Investo “Investasikan Enegimu Untuk Bumi”

Kompas Muda mengadakan Anniversary yang kelima di Makassar. Beberapa volunteer yang berjumlah 28 orang terlihat bekerja dengan luar biasa untuk menyukseskan acara para mudaers tersebut. Mereka berasal dari mahasiswa universitas dan siswa sekolah menengah atas yang telah melalui proses seleksi yang lumayan ketat sebelumnya. Salut untuk mereka!

 Makassar bisa tonji! Frasa ini begitu menggugah semangat anak-anak Makassar untuk selalu berbuat yang positif dan terbaik. Setidaknya ada hal yang akan berbuah signifikan dari hal-hal yang telah mereka lakukan dalam kegiatan “Investo” kali ini. Termasuk cara berpikir ‘green’ yang senantiasa sesuai dengan prinsip keseimbangan lingkungan dan pembangunan.

Kompas Muda Investo “Investasikan Energimu Untuk Bumi”.

Berlangsung dari tangga 10 hingga 11 Februari 2012 yang telah berakhir kemarin sore. Mengambil tempat di halaman gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Universitas Hasanuddin. Stand yang disediakan lumayan banyak.

Ada Makassar Berkebun, Vonis (Makassar Divonis Kreatif), Toko Sokola, Tanahindie,  KPAJ (Kelompok Peinta Anak Jalanan),  dan masih beberapa lagi. Pengunjung yang datang sebagian besar para mahasiswa dan masyarakat umum.

Hari pertama Investo pukul tiga sore: Saya ikut Workshop Citizen Journalism (gabung dengan Citizen Journalsim Competition) di Aula Prof. Amiruddin Fakultas Kedokteran. Tri Harijono (Wartawan Kompas) mengupas beberapa tips, trik, dan kisah-kisah menarik dari jurnalisme ala warga. Segera setelah itu, kami diperintahkan langsung  untuk menuliskan laporan warga bertemakan lingkungan. Inilah kompetisi Citizen Journalism yang dimaksud. Jadi, bukan sekedar menulis untuk latihan. Akan tetapi langsung praktek di tempat. Menulis apa yang pernah dialami atau disaksikan.

Kemudian setelah itu, Riri Riza menyampaikan materi singkat mengenai Film dan Wawasan Lingkungan. Ini pertemuan kali kedua secara langsung dengannya. Salah satu sutradara sekaligus penulis skenario yang sangat berbakat di Indonesia. Sebelumnya kali pertama saya melihatnya secara langsung di kelas III Akademi Berbagi Makassar bulan Desember silam tahun lalu di backyard Kantor BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia).

Kakaban Island Yang Eksotis.

Ternyata selama ini, beliau banyak membuat film-film dokumenter tentang lingkungan. Salah satunya adalah The Magic of Kakaban Island from The Journey of Nicholas Saputra. Film ini Cuma berdurasi 16 menit. Lampu aula dimatikan. Sesaat kami peserta workshop hening menyaksikan Nicholas Saputra menyampaikan narasi hidup perjalanan singkatnya ke Pulau Kakaban di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.

Suaranya masih sama. Berat, angkuh, namun penuh magis. Terakhir kali saya mendengar suaranya pada saat membaca puisi dari Soe Hok Gie dalam film dengan judul yang sama: Gie. Imaji saya lantas melambungkan ke bait terakhir pusi indah itu.

kita begitu berbeda dalam semua: kecuali dalam CINTA”.

Pulau ini kelihatannya begitu indah. Katanya hanya ada dua di dunia ini dengan jenis yang sama. Danau air tawar di tengah laut. Gagasan kepedulian akan lingkungan telah diramu begitu tajam dan mengena. Cerdas mengungkap fakta-fakta obsservasi di lapangan. Selain itu: pastinya ada solusi yang selalu akan dimulai dari diri sendiri.

Tepat jam tujuh malam, naskah tulisan hasil Workshop Citizen Journalism saya kumpul di stan Kompas Muda. Rio Febrian datang sebagai bintang tamu di panggung utama. Menyanyikan beberapa lagu. Sementara hujan turun dengan sangat deras. Tidak ada jalan lain. Saya harus pulang ke rumah.

Hari Kedua Investo pukul dua siang: mengunjungi stan-stan (kemarin belum puas), lanjut membeli sejumlah souvenir menarik dari stan KPAJ (Komunitas Pecinta Anak Jalanan) dan Toko Sokola, mengambil sertifikat Workshop Citizen Journalism. Ternyata Yudi Arianto (volunteer Kompas Muda Makassar Batch IV/Panitia Investo 2012) telah menyimpannya. Tidak ada lagi yang menurut saya menarik. Setelah itu pulang. Domo Arigato. …

Tertarik membaca naskah Citizen Journalism abal-abal yang saya buat dengan setengah mengantuk? Haha…berikut tulisan yang saya maksud.

Mohon maaf jika memang tidak memenuhi kriteria sebuah laporan warga. So, ini bukan contoh yang baik jika seandainya kawan-kawan berminat belajar buat berita. Sama sekali tidak memperhatikan ABDIKASIM (Apa, Bagaimana, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa). Pokoknya, freak

Selamat menikmati! (sudah mengalami beberapa perubahan dari tulisan asli)

                                                                                                             ***********

Warga Memalang Jalan Syekh Yusuf

Aspal Beton dan Banjir Syekh Yusuf

Entah sudah ribu-an yang keberapa saya lewat di jalanan ini. Saya juga tidak tahu lagi. Ya. Jalan Syekh Yusuf. Semua orang Makassar pasti tahu. Ruas jalan ini ditengahi oleh Makam Syekh Yusuf yang terkenal seantero dunia itu. Dalam buku “Sejarah Lokal Indonesia”, saya mengetahui peran besar beliau dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi, Jawa, hingga belahan dunia Afrika. Sehingga, atas dasar itulah mengapa beliau digelari pahlawan nasional di Indonesia dan di Afrika Selatan. Luar biasa, kan?

Tapi apa balas jasa pemerintah? Dari dulu-dulu hingga sekarang, jalan Syekh Yusuf selalu dipenuhi genangan air. Betul. Genangan air setinggi kurang lebih sepertiga betis orang dewasa. Kami akrab menyebutnya ‘banjir’. Ekstrem. Terlalu berlebihan. Tapi itulah kenyataannya.

banjirmi sedeng” begitu orang-orang menukas tajam perihal situasi yang kurang baik ini ketika melintas di Jalan Syekh Yusuf. Macam-macam cercaan serta pandangan negatif \yang kerap kali menghiasi rintihan kekesalan warga.

Aneh memang.

Tapi kondisi ini menyimpan keunikan tersendiri.

Nah, begini.

Jalan AP. Pettarani misalnya. Khusus untuk kawasan perkantoran (Kantor Telkom, Pos dan Giro, beberapa Departemen dan Dinas milik pemerintah), pusat bisnis (Pettarani Business Centre, Ramayana, Carrefour), dan pusat pendidikan (MTsN Model, MAN 2 Model, SDN IKIP, AMIK Profesional). Ah,,,masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Berbeda halnya dengan di Jalan Syekh Yusuf. Ini wilayah perbatasan kota Makassar dengan Kabupaten Gowa. Dinamika dan konsentrasi masyarakat dalam mencari peruntungan hidup sangat tinggi. Ada yang jualan kambing, ada tukang las, ada pemilik pete’pete’ (baca: angkot), ada pagandeng (penggayung/tukang) becak, ada yang berprofesi sebagai sopir  taksi, ada ruko yang didominasi barang bangunan (sampai hari ini Alfamart dan Indomaret juga sudah berdiri), jualan bunga dan air botol di depan makan Syekh Yusuf, toko alat-alat listrik, rumah bersalin, jualan kudapan, jualan gorengan, jualan mini franchise, pemilik jasa Laundry, jualan voucher pulsa, dan seterusnya.

Pokoknya campur sari. Kita bisa mengamati dan melakukan prediksi bagaimana kesenjangan ekonomi masyarakat di daerah sepanjang jalan Syekh Yusuf. Setali tiga uang dengan situasi tempat mereka tinggal dan bermukim. Jalan Syekh Yusuf menjadi bukti nyata kesenjangan tersebut. Malah Jalan Syekh Yusuf menjadi gerbang dan pintu utama sebuah kompleks pemukiman warga kelas menengah atas. Dibuat lebih tinggi dari jalan utama, juga ada beberapa satpam yang selalu sedia menanyai keperluan kita jika hendak bertandang ke rumah salah seorang dari warga yang high class itu.

Padahal jalan Syekh Yusuf: “B.A.N.J.I.R”

Warga Bahkan Menanam Pohon Pisang di Badan Jalan

Hingga tiba saat itu…    

Hingga sekitar bulan Mei 2010, ruas jalan ini memang masih rusak parah. Kondisi jalan yang berlubang di mana-mana, aspal-aspalan (baca: non aspal butas) yang sudah sekian kali ditambal sulam, saluran pembuangan alias got yang sengaja ditutup, bagian sepadan jalan yang dialihfungsikan ruko milik warga sebagai tempat parkir, dan masalah lain yang saya kurang paham.

Ingatan saya masih jelas pada medio 2010 silam. Warga memblokir jalan dengan balok, papan, ranting dan dahan pohon besar selama hampir sebulan. Betul, dengan itu saya terbebas dari “banjir” dadakan di Jalan Syekh Yusuf. Akan tetapi, jalan memutar yang saya lalui ternyata lebih panjang dan lebih lama untuk dapat sampai di kampus kala itu.

Jelas, ini bukan solusi. Saya bingung sekaligus khawatir. Masyarakat tiba-tiba saja marah kepada pemerintah. Kesal dan geram dengan Pemerintah Gowa atau Makassar atau Sulawesi Selatan atau sekalian Pemerintah Indonesia. Saya juga tidak tahu. Akses untuk masuk dan keluar dari jalan Syekh Yusuf di blokir oleh warga yang tinggal di sepanjangan jalan. Dipasangi pula spanduk-spanduk bernada penolakan, protes, dan penuntutan warga untuk bisa segera memperoleh jalan baru.

Apakah kawan-kawan tahu siapa nama yang digadang-gadang dalam aksi warga ini?

Betul saja: Syekh Yusuf.

Paentengi siritta’

Tuanta Salamaka Pahlawan Nasional

Dimana penghargaanta’ kodong…

Begitu salah satu tulisan spanduk yang dipasang melintang oleh warga di jalan Syekh Yusuf. Kita semua tahu urat leher orang-orang Makassar cepat kembang kempis jika siri’ nya diganggu. Apalagi kalau memang sengaja untuk diusik. Meskipun bukan karena alasan Syekh Yusuf pahlawan nasional itu, pemerintah memang berkewajiban menyediakan akses jalan yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Meskipun demikian, persepsi dan pemahaman masyarakat tentang lingkungan tetap saja tidak berubah. Kalaupun ada yang menjadi sadar ketika warga sudah marah, perubahan itu tidaklah signifikan. Begitu kira-kira. Memaksa pemerintah mengadakan jalan baru berupa aspal beton, terbukti selama kurang lebih dua tahun (bahkan hingga detik ini), kuantitas genangan dan “BANJIR” dadakan masih selalu jadi mimpi buruk bagi kami warga yang menetap dan bermukin di selatan kota Makassar.

Apa boleh buat, ini akses terdekat yang menghubungkan kami dengan dunia luar (pusat kota) setelah jalan Aroepala (dulu masih bernama Jalan Hertasning Baru). Tidak ada perubahan berarti. Di mana letak permasalahannya, saya pun tidak mengerti. Ok. Saya paham. Dua tahun lalu warga memang berhasil memaksa pemerintah mengadakan dengan segera jalan baru. Namun, sekali lagi. Warga tidak berubah. Mereka masih tidak membuka saluran pembuangan utama (got) dan masih menggunakan sepadan jalan untuk lahan parkir ruko mereka. Hanya itu yang bisa saya amati sejauh ini. Karena, tidak menutup kemungkinan pemerintah yang mengerjakan proyek dadakan ini juga tidak teliti dan acuh dalam pelaksanaannya. Yang penting: JADI DULU.

Walhasil

Setiap musim penghujan tiba seperti yang terjadi di bulan-bulan terakhir ini. Insya Allah, saya akan senantiasa membawa sandal jepit untuk menghindari basahnya sepatu satu-satunya yang saya miliki hari ini karena telah berani menerjang garang genangan dan “BANJIR” dadakan tersebut. Pun di musim kemarua sama saja. Makassar biasanya mendapat jatah hujan sekali atau bahkan dua kali dalam sebulan.

Istilah kami di sini: “HUJAN SEJAM, BANJIR SEPEKAN”

Masyarakat yang notabene tinggal dan bermuki di sepanjangan jalan Syekh Yusuf agaknya tidak ingin melakukan inisiasi pergerakan perubahan ke arah yang lebih baik. Ya, saya pun acuh tak acuh. Padahal, menurut logika awam saya, air hujan menjadi menggenang dan mewujud “BANJIR” dadakan alasannya cuma satu: SISTEM DRAINASE.

Tersumbat. Tuttt..tuttt…tuttt…

Itu Saja.

Pola pikir warga yang tinggal di sepanjang jalan Syekh Yusuf terlihat sangat sederhana:

  1. Pagi: bisa cuci motor dan mobil dari air “BANJIR”
  2. Sore: bisa duduk-duduk di beranda rumah, sambil ngopi, meskipun “BANJIR”
  3. Malam: bisa tidur dengan nyenyak, walaupun “BANJIR”

 Demi Bumi!
Saya, kalian, dan mereka: Mari Menjaga Lingkungan!

Sumber gambar: nai-harn-beach.com dan foto.detik.com

Mengaku Kalah

Posted: February 4, 2012 in Catatan Harian
Merenung di tengah hujan


Sebuah catatan hidup/ Kamis, 12 Januari 2012

Waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih sekian menit ketika hujan mengguyur sebagaian daerah Makassar dengan sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Seakan-akan pohon akan tumbang setelah diterjangnya selama beberapa saat. Peristiwa hujan angin dan hujan lebat di berbagai tempat di Indonesia menjadi biasa-biasa saja akhir-akhir ini. Terutama di daerah pulau Jawa bagian selatan. Prediksi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) bahwa ekor badai siklon tropis akan terus menerjang. Berhenti apabila telah bergerak menuju Australia. Tapi dampaknya hanya terasa di pulau Jawa.

Alhamdulillah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Makassar dan daerah sekitar masih dalam hitungan kondisi aman tidak (insya Allah) terkena imbas badai siklon tropis seperti yang santer diberitakan di media. Dampaknya memang cukup parah. Saya belum bisa menerima imaji ketika Makassar terkena dampak buruk badai tersebut. Pohon runtuh di mana-mana, papan reklame bertumbangan di jalan-jalan, genangan air hujan menggenang di ruas jalanan protokol, dan pastinya: kemacetan yang tidak terhindarkan. Namun, saya mulai merasakan hal yang sama dengan kondisi serupa. Ya, jika frekuensi hujan masih saja tinggi terjadi hampir setiap hari. Seperti hujan hari ini. Hujan yang berbeda. Hujan dengan belitan angin dan ringkihan bulir-bulir air.

Lantas, hari ini saya memandang pemandangan tersebut dari luar pintu kaca sebuah ruko yang beralih fungsi menjadi tempat bimbingan belajar. Kendaraan bergerak sangat perlahan. Sementara hujan turun tanpa henti. Letaknya di bilangan jalan Perintis Kemerdekaan. Tempat ini sudah keseringan macet dalam kondisi normal sekalipun. Dan, bisa dibayangkan jika hujan pun turut memperparah.

Bukan bermaksud  menyalahkan hujan. Sebab hujan bisa terlihat sangat indah jika terlihat dari kaca jendela rumah sendiri. Bukan di tempat lain. Segala macam pikiran bertumpuk, kemudian kita merenung di tengah ‘aroma khas’ hujan. Renungan yang kadang melahirkan inspirasi dan ide baru. Entah berapa banyak lagu hits tercipta dengan lirik yang mengandung kata ‘hujan’. Hujan itu memang ajaib. Kita malah banyak tersadar karena hujan. Juga euphoria aktivitas harian yang demikian menggelora.

Apalagi jika ditemani segelas coklat panas. Hmmm…mampu memikat nikmat.

Semua siswa telah balik ke rumah masing-masing. Mereka naik angkot. Kebanyakan diantar jemput oleh orang tua dan kerabat. Saya sendiri juga ingin ke suatu tempat dengan segera. Ada agenda yang mesti diselesaikan dengan deadline yang hampir usai. Tapi tidak mungkin juga saya memaksa. Selain mantel yang bocor dan juga angin yang kencang, berkendara di tengah hujan deras seperti ini sangat dimungkinkan terjadinya kecelakaan kecil, bahkan mungkin saja kecelakaan fatal.

Setengah jam berlalu. Hujan belum reda sama sekali. Kelihatannya makin parah.

Perut sudah melilit bernada keroncong dengan suara riuh rendah. Ya. Saya belum makan  apa-apa dari pukul delapan pagi hingga sekarang. Lebih sepuluh jam berselang. Mengapa saya bisa sekuat ini, saya juga kurang paham. Sebenarnya beragam kudapan dan gorengan yang ditawarkan rekan-rekan tutor saya tolak dengan halus. Hari setelah jam mengajar usai, Direktur dan siswa membuat acara kecil-kecilan di sini: makan-makan. Mungkin syukuran ini itu. Tidak penting. Adapatasi saya masih rendah. Peka juga kurang.

Saya sibuk membolak balik koran edisi kemarin. Saya mulai mengacuhkan semuanya. Hingga saya menoleh dan melihat sisa makan-makan mereka yang berantakan di meja front office. Office boy (seorang pria lewat paruh baya) sudah memasang muka masam dan menegur Direktur yang masih muda itu. Yah, wajarlah.

Saya masih berniat dan bertekad ingin pulang. Sekali lagi. Namun hujan belum reda. Saya mengaku kalah dengan hujan. Setitik air berbondong-bondong yang datang jauh nun di atas langit sana. Tempat awan berkondensasi membentuk uap-uap air. Seandainya bukan hujan. Saya sudah pulang. Pulang ke peraduan. Tanpa makan ketika pergi dan belum makan juga ketika pulang. Saya yang mengaku kalah dengan hujan.

Jika mereka menganggap saya tidak punya apa-apa, mereka benar.
Jika mereka menuduh saya tidak berarti apa-apa, mereka juga benar.
Aku: Yang mengaku mengalah pada kehidupan dan hujan.
#KM_2012

Sekilas Wajah-Wajah Pengajar Muda Angkatan I

Sebuah buku. Indonesia Mengajar. Hanya ini. Buku ini adalah rezeki yang tidak ternilai bagi saya. Rezeki, karena buku ini pemberian adik  yang tiba-tiba ‘berubah’ jadi altruis. Mengajak saya jalan ke toko buku dan membayar semua harga yang tertera di struk. Ransel ini menjadi penuh dengan buku. Tidak muat lagi menampung seandainya dia menambah lagi meskipun itu cuma sebuah komik.

 Nah, buku yang kupilih hanya satu. Akan tetap satu. Kalau tidak, penyakit saya nomor 5 bisa kambuh. Beli dua buku, hanya satu yang dibaca. Satunya sudah lenyap duluan dipinjam orang. Kembalinya jangan ditanya lagi Ini dia judulnya: Indonesia Mengajar. Rezeki karena saya tidak lagi salah pilih buku ketika dihadapkan gemerlapnya lampu dan alunan instrumen klasik di toko buku terbesar di kota kami.

Sejak awal terbit, saya langsung tertarik untuk memiliki buku ini. Namun tidak seperti komik dan buku ‘seksi’ lainnya. Semisal Chicken Soup for The Soul dengan tema baru milik Mark Victor Hansenn dkk, novel sejarah berjudul “Perang Makassar”, dan juga ‘Manusia Setengah Salmon’ karya freak si aneh Raditya Dika. Buku-buku itu lebih menarik secara alamiah.

Terhitung sudah tiga kali saya menyambangi toko buku, akhirnya tidak juga kesampaian membeli buku “Indonesia Mengajar”. Meskipun buku ini sarat emosi positif sekalipun. Ya. Tiap ke mari, saya selalu mengulang-ngulang membaca komentar para figur publik di sampul belakang. Tiap kali itu pula saya terkesan sekaligus terhenyak! Akan tetapi pertimbangan lain lebih memaksa saya secara naluri. Entah itu sederetan komik edisi terbaru, atau diskon gila-gilaan (cuci gudang) pada lain kesempatan. Akhirnya buku ini tidak jadi terbeli karena alasan banalitas perilaku konsumerisme dan prioritas freak yang terkadang tidak masuk akal. Haha…

Tapi pertimbangan lain bahwa saya harus mendahulukan komik edisi baru adalah alasan klasik. Nanti habis diborong abg labil, ceritanya saya ikuti sejak masih sekolah, ataupun alasan sebagai bahan cerita baru dengan siswa SMP dan SMA di kelas mikro yang kami miliki di bimbingan belajar. Namun, aktivitas mengajar di bimbingan belajar yang menyita waktu dan pikiran saya yang telah genap dua tahun turut meng ‘iya’ kan dan meng ’amin’ kan semua apa terjadi dalam buku ini. Saya sungguh terkesima dengan semua pengalaman Pengajar Muda.

Ketulusan: ini yang tidak selalu dan tidak mudah saya dapatkan.

Sampul depan Buku "Ajaib" tersebut

Setelah peristiwa pembelian buku yang bersejarah tersebut, hampir sepekan lamanya buku ini saya tenteng jika hendak ke mana-mana. Jika tidak, maka pasti ada di dalam ransel punggung. Tertimbun di sela-sela buku, laptop, dan barang pribadi lainnya yang menemani aktivitas keseharian saya. Ok. Pekan lalu buku ini belum tuntas saya baca.  Akan tetapi, dengan sedikit paksaan, walhasil hari ini saya tuntas membacanya. Imbasnya luar biasa. Semangat, pantang menyerah, mimpi, cita-cita, harapan, pengabdian, dan integritas para Pengajar Muda yang sudah menular melalui kumpulan goresan kisah.

Saya sangat paham: di tempat saya mengabdi sebagai tenaga tutor bimbingan belajar, kami para tentor difasilitasi dengan beragam peralatan yang ‘wah’ dan ‘wooow’. Pun metode mengajar yang berbeda di setiap tempat bimbingan belajar. Itu sejenak memuat kami lupa akan tugas ikutan seorang pengajar: menginspirasi.

Masalah kemudian timbul,  ispirasi apa yang dinginkan anak-anak kota nan berada ini? Itu yang lupa kami pikirkan bersama. Meskipun tidak menjadi bagian dari honor kami dalam sebulan, tetapi baru kali ini saya sangat menyadari hal sepenting itu. “Mengajarkan cara bersyukur”, “menepis nuansa perbedaan”, dan “memperbaharui semangat” adalah hal-hal yang layak dipertimbangkan oleh manajemen kami di lembaga bimbingan belajar.

Inspirasi Anies Baswedan

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar  Anies Baswedan, Ph. D akhir tahun lalu datang ke kampus kami, UNM Makassar. Berbagi kepada ratusan civitas akademika (mulai Rektor hingga alumni turut hadir) tentang kepemimpinan pemuda dan integritas membangun Indonesia yang bermartabat. Sebuah nasehat yang jarang kami dapatkan di bangku kuliah. Kalau kawan-kawan pernah menghadiri acara lokal tahunan TEDx, kira-kira kesan akhirnya sama.

Let’s share, let’s inspire…

Setelah beliau mengisahkan sekilas program ‘Indonesia Mengajar’, beliau lantas mengakhiri dengan  sebuah ungkapan yang sangat mengena. Masih saya ingat pesan beliau hingga saat ini. “Jadikan pengabdian itu sebagai sebuah kewajaran” pungkasnya. Saya percaya beliau tidak omong kosong. Terbukti aksi dan tekadnya di lapangan luas bernama ‘INDONESIA’. Sebanyak 51 Pengajar Muda Angkatan pertama berdedikasi tinggi siap membantu mewujudkan impian anak-anak di pelosok melalui pendidikan dan leadership.

Hingga kini, Pengajar Muda Angkatan III tengah bergumul di wilayah-wilayah terdepan, terpencil, dan terluar Indonsia. Acara berakhir dengan penyerahan sebuah buku “Indonesia Mengajar” kepada LPPM (Lembaga Penyiaran dan Penerbitan Mahasiswa) Profesi UNM selaku penyelenggara. Turut pula mendampingi seorang anak Makassar, Pengajar Muda Angkatan I Yunita Ekasari Bahrum  yang juga Alumni Universitas Hasanudin.

Ada rasa haru dan antusias yang menyeruak seketika. Catatan pilihan para Pengajar Muda di pelosok negeri ini di rangkum menjadi magnet yang bernama ‘buku’. Mulai dari rimba Aceh hingga pedalaman Fak-fak.  Buku ini sejak diterbitkan pertama kali, saya yakin telah melesakkan semangat pengabdian, melontarkan optimisme hidup, menjentikkan nurani para pengawal pendidikan, dan mengacuhkan sinisme orang-orang pesimis akan Indonesia yang lebih baik.

Saya sangat berharap suatu ketika, saya bisa turut menjadi bagian dari Pengajar Muda. Atau paling tidak, kobar semangat mereka akan terus menggema dalam alam pikiran saya. Dan itu mewujud dalam tindakan saya ke depan. Semoga.

Mengajar adalah tugas orang terdidik’ Anies Baswedan

#Salam perubahan!   

Inilah Bandul Beton tersebut. Dipasang melintang di perlintasan.

Ini mungkin salah satu berita teraneh yang pernah saya dengar. Tadi di berita pagi salah satu stasiun televisi swasta. Sederetan bandul beton -semuanya ada 24- dipasang di atas palang lintasan kereta api antara Stasiun Besar Bekasi dengan perlintasan pertamanya. Bandul tersebut dipasangi rantai yang menjuntai di ujung palang lintasan. Nah, jika nantinya ada penumpang kereta yang ‘nakal’ atau ‘terpaksa’ menaiki gerbong KRL (Kereta Rel Listrik), mereka akan tertimpuk bandul beton ini.

Saya memang tidak pernah naik kereta api sekalipun dalam hidup. Maklum, di wilayah Sulawesi tidak ada rel kereta api yang terpasang. Mungkin Belanda lupa menyuruh paksa bangsa ini untuk membuat rel kereta api dari ujung huruf “K” pulau Sulawesi hingga ke Makassar? Entahlah. Malah lebih elit lagi nantinya. Bapak Jusuf Kalla akan segera membangun monorail pertama di Indonesia. Dan itu rencananya akan dibangun di tengah-tengah kota Makassar. Dengan kereta yang mirip-mirip Shinkansen yang terkenal seantero dunia itu.

Kembali ke rencana kebijakan pemasangan bandul beton. Menurut saya, ini ide yang luar biasa konyol. Bagaimana menurutmu? Saya sedikit paham kondisi psikologis (sok tahu) orang-orang yang menjadi pengguna moda transportasi darat. Semua umur wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah saya habiskan di atas pete’pete’ (baca: angkot).

Perwajahan bandul beton ini memang agak sangar. Dibuat menjadi lebih berat dan warna bandul yang keperak-an. Persis seperti senjata berat para algojo zaman Romawi yang akan menghukum si pesakitan. Sejauh ini katanya berhasil membuat jera. Khan, masih tahap uji coba. Terbukti tidak ada lagi warga yang menaiki gerbong kereta api. Kalau ada yang nekat, bisa-bisa kepalanya pecah atau paling tidak gegar otak berat terkena hantaman kebijakan yang kurang masuk akal tersebut.

Terlepas dari hal itu, Komnas HAM mewanti-wanti jika ada keluhan, pengrusakan, maupun korban jiwa jika seandainya ini betul-betul diterapkan di semua jalur perkeretapiaan. Tanggung jawab itu tetap kembali ke PT. KAI selaku penempu kebijakan tidak rasional ini.

Katanya: Rentan Pelanggaran HAM

Berita tersebut tidak menerangkan lebih jauh mengapa kebijakan ini rentan pelanggaran HAM. Biar tidak dijelaskan, jika merunut ke logika akal sehat hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Kalau anak-anak mungkin akan tertawa, karena mereka punya saingan dalam hal jebak-menjebak. Yah, biasalah. Anak-anak yang sedang masa-masa bermain, cenderung mencari hal-hal yang membuat mereka semua tertawa. Salah satunya adalah dengan membuat jebakan. Menjebak teman sendiri untuk dijadikan bahan tertawaan.

Justru petugas Kereta Api yang jurusan ke kota Jakarta itu punya argumentasi lain. Imbauan tidak menaiki gerbong Kereta Api sudah disampaikan dengan segala cara kepada masyarakat. Setrum listrik (-dalam pemasangan pintu koboi- sudaaah. Cat semprot berwarna, juga sudaah. Sidang di tempat kejadian juga sudaaah. Termasuk beberapa jebakan lain sebelum bandul beton tak logis itu.

Tapi masyarakat tetap saja berani menumpang di atas gerbong. Padahal kondisi amannya tidak ada. Minim bahkan nihil kalau boleh dikatakan. Memang benar hal ini melanggar UU nomor sekian-sekian tentang perkeretapiaan. Kebijakan ini tidak sepenuhnya berimbang. Karena tanggung jawab pemerintah sepenuhnya harus memberikan penyediaan transportasi umum yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Masyarakat tentunya akan sangat salut jika kebijakan yang ada memiliki sifat meng-edukasi, bukan menjebak. Kekanak-kanakan.

Seandainya saja petugas Kereta Api tertawa-tawa setelah ada orang korban jiwa di bawah palang lintasan, entah di mana beliau-beliau itu menyimpan moralnya. Apalagi sambil mengatakan “tau rasa loe pade. emang enak!”. Tidak manusiawi, guys. Kesimpulan sementara saya. Yah, ini jebakan yang dilegalkan. Sampai kiamat pun, saya tidak akan pernah sepakat. Kecuali dalam adegan film. Mungkin. Ini baru kreatif. Haha…

Kalau bisa, berontak! Menolak untuk diam dan bungkam dengan segala ketidaksesuaian kebijakan pemerintah dengan res publica.

*catatan kecil ini pernah kami muat juga di Kompasiana.

foto: okezone.com